Archive for Mei, 2010

Perekam suara ISD 25120

Voice Record/Playback Storage Device ISD 25120

Information Storage Device (ISD) seri 25120 Chip Corder merupakan peralatan yang dirancang untuk merekam dan memutar ulang suara dalam satu chip.

Gambar Diagram blok IC ISD25120

IC ISD 25120 mempunyai beberapa perlengkapan didalamnya, antara lain osilator internal, mikropon pre-amplifier, automatic gain control, tapis perata dan speaker amplifier (penguat speaker).

Struktur PIN ISD25120

Konfigurasi pin sebagai berikut:

  1. Ax/Mx (Address/Mode Inputs). Alamat/mode masukan mempunyai dua fungsi tergantung pada logika dari dua Most Significant Bits (MBS) yang terdapat pada pin alamat (A8 dan A9). Jika salah satu atau kedua MBS berlogika rendah, seluruh pin masukan diterjemahkan sebagai bit alamat dan digunakan sebagai awal alamat pada saat siklus rekam atau putar ulang. Pin alamat hanya sebagai pin masukan dan bukan merupakan keluaran dari alamat internal selama operasi.
  2. AUX IN (Auxillary Input). Masukan auxillary dikuatkan melalui pin keluaran amplifier dan pin keluaran speaker ketika CE berkondisi tinggi, P/R tinggi dan putar ulang pada saat ini tidak aktif atau jika komponen dalam kondisi putar ulang overflow.
  3. VSSA, VSSD (Ground). Komponen ISD25120 dilengkapi dengan ground analog dan ground digital. Pin-pin tersebut harus dihubungkan terpisah melalui sebuah bagian impedansi rendah ke ground catu daya.
  4. SP+/SP- (Speaker Output). Semua komponen dalam ISD25120 terdapat sebuah chip driver speaker, yang mampu men-driver 50 mW dalan 16Ω dari AUX IN (12,2 mW dari memori).
  5. VCCA,VCCD (Sumber Tegangan). Untuk mengurangi noise, rangkaian analog dan digital pada komponen ISD25120 digunakan sumber tegangan yang terpisah. Jalur sumber tegangan yang keluar ke pin dibedakan. Jika hanya menggunakan sebuah sumber tegangan, maka harus di-couple dengan kapasitor.
  6. MIC (Microphone). Pin mikropon memindahkan sinyal masukan ke dalam chip preamplifier. Rangkaian Automatic Gain Control (AGC) di dalam chip mengontrol penguatan preamplifier dari -15 hingga +24dB. Mikropon luar harus dikopeling dengan kapasitor ke dalam pin mikropon ini.
  7. MIC REF (Microphone Reference). Masukan MIC REF adalah masukan inverting ke penguat mikropon.
  8. AGC (Automatic Gain Control). Kegunaan dari AGC adalah untuk menambah atau mengurangi secara otomatis penguatan (gain) dari preamplifier, dan juga meluaskan batas dari sinyal masukan yang dapat digunakan oleh mikropon tanpa terjadi distorsi. AGC ini dapat secara dinamis meluaskan batas dari suara yang terekam dari suara bisikan sampai suara yang keras. Untuk menggunakan fasilitas AGC ini, resistor dan kapasitor luar (eksternal) harus dihubungkan secara paralel antara pin AGC dengan ground.
  9. ANA IN (Analog Input). Kapasitor eksternal (luar) yang menghubungkan antara ANA IN dan ANA OUT. Nilai dari kapasitor luar, dengan impedansi masukan 3 KΩ dari ANA IN, dapat dipilih untuk memberikan keadaan cutoff pada frekuensi rendah.
  10. OVF (Overflow). Sinyal ini berlogika rendah pada akhir dari memori IC, mengindikasikan bahwa komponen telah penuh dan pesan telah overflow. Keluaran OVF kemudian diikuti masukan CE selama pulsa PD direset. Pin ini dapat dugunakan untuk penggunaan beberapa komponen ISD25120 lebih dari satu untuk meningkatkan durasi rekam dan putar ulang.
  11. CE (Chip Enable). Pin masukan CE dikondisikan rendah untuk memperbolehkan seluruh operasi putar ulang dan rekam. Pin alamat dan pin P/R dikunci oleh tebing turun dari CE. CE mempunyai fungsi tambahan dalam mode operasional Push-Button.
  12. PD (Power Down). Ketika tidak ada operasi rekam atau putar ulang, pin PD harus di pull-up untuk menempatkan pada kondisi standby. Ketika kondisi overflow, PD harus di kondisikan tinggi untuk mereset alamat pointer kembali ke awal memori.
  13. EOM (End Of Message). Sebuah tanda akan dimasukkan secara otomatis pada akhir setiap pesan yang direkam. Tanda ini akan ada sampai akhir pesan yang direkam. EOM menguluarkan pulsa rendah untuk sebuah periode dari akhir setiap pesan.
  14. XCLK (External Clock). Pin masukan clock eksternal mempunyai sebuah perlengkapan pull-down internal. Perlengkapan ini dikonfigurasi pada pabrik dengan suatu pengambilan contoh clock internal frekuensi tengah hingga ± 1% dari spesifikasi.

Komunikasi Pada Port Paralel

Paralel port adalah port yang paling banyak digunakan sebagai interfacing dengan berbagai macam peralatan eksternal. Secara umum paralel port terdiri dari 4 jalur kontrol, 5 jalur status dan 8 jalur data. Hubungan pengkabelan yang umum digunakan yaitu konektor tipe DB25 seperti ditunjukkan pada gambar dibawah ini.

Gambar Susunan pin eksternal soket DB-25 female pada port parallel PC IBM

Paralel port yang telah distandarisasi dibawah standard IEEE 1284, pertama diperkenalkan pada tahun 1994. Standard tersebut didefinisikan dalam 5 mode operasi, yaitu:

1. Mode kompabilitas (Compability Mode)

2. Mode 4 bit (Nibble Mode)

3. Mode 8 bit (Byte Mode)

4. Mode parallel port lanjutan (Enhanced Paralel Port-EPP)

5. Mode kapabilitas diperluas (Extended Capability Port-ECP)

Register yang ada pada DB25 terdiri dari 3 jenis, antara lain :

1. Register Data

2. Register Control

3. Register Status

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel Pin-pin pada port paralel

Untuk dapat menggunakan port parallel, kita harus mengetahui alamatnya. Alamat LPT1 biasanya adalah 888 (378h) dan LPT2 biasanya 632 (278h). Setelah kita mengetahui alamat dari port parallel, maka kita dapat menentukan alamat data port, control port, dan status port. Alamat data port adalah alamat dari port parallel tersebut, alamat status port adalah hasil penaikan 1 angka dari data port, dan alamat control port adalah hasil penaikan 2 angka dari data port. Lebih jelasnya lihat tabel di bawah ini:

Tabel Alamat Status Port Paralel


ROBOT LINE FOLLOWER dengan Kendali PID

ROBOT LINE FOLLOWER dengan Kendali PID

Bergerak smooth-nya robot sangat tergantung dari aksi kontrol robot tersebut, jika hanya menngunakan kontrol on-offf (diskontinyu) akan sangat berbeda dengan aksi kontrol kontinyu PID. Kontrol PID saat ini banyak digunakan dalam aksi-aksi di dunia industri dan juga kontrol robot ^_^

Jika kita berbicara kontrol robot line follower dengan PID maka bukanlah kontrol PID yang sebenarnya… sebab (kata dosenku) pada robot line follower elemen ukur (sensor) tidak terdapat pada plant (motor penggerak) dari robot, yang  serharusnya ialah sensor terdapat di plant(motor penggerak), dengan contoh tachometer sebagai sensor pada motor, encoder atau yang laennya yang terletak pada plant. sedangkan pada robot line follower sensor berupa pendeteksi garis (tidak terletak pada plant) dan dari hasil kondisi garis tersebut barulah dikontrol ke motor (plant), namun walaupun begitu kontrol PID masih dapat diterapkan untuk mengendalikan robot line follower.

Blok aksi kontrol PID:

Formula matematis dari PID:

Dari formula tersebut dapat dirumuskan menjadi pen-digitalization PID dengan berbagai metode, kalo di kul dengan cara transformasi Z, ZOH, bilinier transformartion, Eulers method.. wah susah pokoknya…. Sehingga diperoleh bentuk digital diskritnya menjadi persamaan dibawah ini….

Bentuk kontroler PID diskrit:

Nach…jika kita terapkan dalam bahasa pemrograman menjadi….

Dimana; Ts ialah time sampling, error ialah nilai kesalahan dan last_error ialah nilai error sebelumnya.

Berikut ilustrasi penerapan kontrol PID pada robot line follower:

dari blok iliustrasi tersebut dapat q jelasin sebagai berikut:

S1,S2…,S8 merupakan sensor dengan pemberian bobot Present Value (PV) PV=0, PV=-1, PV= 1 dst….

Deviasi/simpangan antar variabel terukur (PV) dengan nilai acuan (SP) disebut error (galat)

Nach nilai error dari pembacaan sensor ini yang dijadikan aksi perhitungan kendali PID, lalu nilai perhitungan PID tersebut dijumlahkan dengan setpoint PWM untuk dijadikan sebagai nilai aktual PWM motor dari robot line follower, berikut formula perhitungan nilai PWM kiri dan kanan dari robotku:

Untuk dapat lebih mudah memahami algoritma kendali PID robot line follower ku download diagram alir programnya disini

Untuk cara tunning kontrol PID dan sample coding (BASCOM AVR dan CODEVISION AVR) pada robot line follower ku dapat di lihat disini… dan pengen lihat video robotku disini….dan disana

Dan berikut aplikasi kontroler PID pada Robot-Wall Follower ato yg lebih dikenal dengan robot telusur dinding:

Semoga bermanfaat 😀

===============================================================

bacaan terkait di blog ini:

1. tuning-kontrol-pid-pada-robot-line-follower klik disini

2. robot line follower dengan multiplekser-ADC  klik disini

AT Command dan PDU SIEMENS type C/M/S 35

AT Command

Dibalik tampilan menu message pada ponsel sebenarnya adalah AT Command yang bertugas mengirim atau menerima data ke atau dari SMS-Center. AT Command tiap-tiap SMS device bisa berbeda-beda, tetapi pada dasarnya sama. Beberapa AT Command yang penting untuk SMS yaitu :

• AT+CMGS : untuk mengirim SMS

• AT+CMGL : untuk memeriksa SMS

• AT+CMGD : untuk menghapus SMS

AT Command untuk SMS, biasanya diikuti oleh data I/O yang diwakili oleh unit-unit PDU.

PDU Sebagai Bahasa SMS dan Bagian – Bagiannya

Data yang mengalir ke atau dari SMS-Center harus berbentuk PDU (Protocol Data Unit). PDU berisi bilangan-bilangan heksadesimal yang mencerminkan bahasa I/O. PDU terdiri atas beberapa Header. Header untuk kirim SMS ke SMS-Center berbeda dengan SMS yang diterima dari SMS-Center.  Maksud dari bilangan heksadesimal adalah bilangan yang terdiri atas 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9,A,B,C,D,E,F.

PDU untuk mengirim SMS terdiri atas :

1. Nomor SMS-Center

Header pertama ini terbagi atas tiga subheader, yaitu :

  • Jumlah pasangan heksadesimal SMS-Center dalam bilangan heksa. Daftar SMS Center yang ada di Indonesia diperlihatkan dalam  tabel dibawah ini.
  • National/International Code

a. Untuk National, kode subheader-nya yaitu 81

b. Untuk International, kode subheader-nya yaitu 91

  • No SMS-Centernya sendiri, dalam pasangan heksa dibalikbalik. Jika tertinggal satu angka heksa yang tidak memiliki pasangan, angka tersebut akan dipasangkan dengan huruf F didepannya.

Tabel Nomor SMS-Center Operator Seluler Di Indonesia

No Operator Seluller SMS-Center Kode PDU
1 Telkomsel 62811000000 07912618010000F
2 Satelindo 62816125 059126181652
3 Exelcom 6218445009 07912618485400F
4 Indosat-M3 62855000000 07912658050000F
5 Starone 62811000000 079126180100

2. Tipe SMS

Untuk SEND tipe SMS = 1. Jadi bilangan heksanya adalah 01

3. Nomor Referensi SMS

Nomor referensi ini dibiarkan dulu 0, jadi bilangan heksanya adalah 00. Nanti akan diberikan sebuah nomor referensi otomatis oleh ponsel/alat SMS-gateway.

4. Nomor Ponsel Penerima

Sama seperti cara menulis PDU Header untuk SMS – Center, header ini juga terbagi atas tiga bagian, sebagai berikut :

• Jumlah bilangan desimal nomor ponsel yang dituju dalam  bilangan heksa.

• National/International Code.

–          Untuk Nasional, kode subheader-nya 81

–          Untuk Internasional, kode subheader-nya 91

• Nomor ponsel yang dituju, dalam pasangan heksa dibalik-balik.

Jika tertinggal satu angka heksa yang tidak memilikipasangan, angka tersebut dipasangkan dengan huruf F didepannya.

Contoh :

Untuk nomor ponsel yang dituju = 628x32x7333x dapat ditulis dengan cara sebagai berikut :

628132x7333x diubah menjadi :

1. 0C : ada 12 angka

2. 91

3. 26-18-23-7x-33-x3

Digabung menjadi : 0C9126x8237x33x3 (x ialah samaran nomer)

Bentuk SMS, antara lain :

  • 00 : dikirim sebagai SMS
  • 01 : dikirim sebagai telex
  • 02 : dikirim sebagai fax

Dalam hal ini, untuk mengirim dalam bentuk SMS tentu saja dipakai 00

5. Skema Encoding Data I/O

Ada dua skema, yaitu :

1. Skema 7 bit : ditandai dengan angka 00

2. Skema 8 bit : ditandai dengan angka lebih besar dari 0

Kebanyakan ponsel/SMS Gateway yang ada dipasaran sekarang menggunakan skema 7 bit sehingga digunakan 00.

6. Jangka Waktu Sebelum SMS Expired

Agar SMS pasti terkirim sampai ke ponsel penerima, sebaiknya tidak diberi batasan waktu validnya.

Isi SMS

Header ini terdiri atas dua subheader, yaitu :

a. Panjang isi (jumlah huruf dari isi)

Misalnya untuk kata “hello” : ada 5 huruf : 05

b. Isi SMS berupa pasangan bilangan heksa

Untuk ponsel/SMS Gateway berskema encoding 7 bit, jika mengetikan suatu huruf dari keypad-nya, berarti kita telah membuat 7 angka I/O berturutan.

Ada dua langkah untuk mengkonversikan isi SMS, yaitu :

  1. Mengubahnya menjadi kode 7 bit.
  2. Langkah kedua: mengubah kode 7 bit menjadi 8 bit yang diwakili oleh pasangan heksa.

Contoh : untuk kata “hello”

Oleh karena total 7 bit x 5 huruf = 35 bit, sedangkan yang kita perlukan adalah 8 bit x 5 huruf = 40 bit, maka diperlukan 5 bit dummy yang diisi dengan bilangan 0. Setiap 8 bit mewakili suatu pasangan heksa. Tiap 4 bit

mewakili satu angka heksa, tentu saja karena secara logika 24 = 16. Dengan demikian kata “hello” hasil konversinya menjadi E8329BFD06

Ke delapan header diatas digabungkan agar membentuk suatu format PDU yang siap dikirim. Misal untuk mengirimkan kata hello ke ponsel nomor 628129573337 lewat SMS-Center Exelcom, tanpa membatasi jangka waktu valid, maka header PDU lengkapnya :

07912618485400F901000C9126x8237x33x3000005E8329BFD06


Untuk source AT Command Siemens seri C/M/S 35 yang lengkap dapat didownload disini.

===============================================================

bacaan terkait di blog ini:

1. at-command-dan-pdu-siemens-type-C/M/S 35 klik disini

2. aplikasi-port-serial-mikrokontroler-atmega8535 klik disini

Koneksi ATmega8535 dengan Handphone siemens type C/M/S-35

jack siemens m 35

kali ini pengen share bagaimana caranya menghubungkan handphone dengan mikrokontroler,  caranya gampang…. untuk dapat menghubungkan mikro dengan HP baca dulu penjelesan dibawah ini,…

Komunikasi dengan handphone ini dilakukan melalui terminal yang ada di bagian bawah handphone seperti pada gambar diatas dan digunakan juga untuk menyambungkan charger baterai. Susunan pin pada terminal ini dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.

Tabel Susunan pin terminal HP Siemens M35

No Nama Fungsi In/Out
1 GND Ground
2 SELF SERVICE Recognition / Battery Charger In/Out
3 LOAD Charging Voltage In
4 BATTERY Battery Out
5 DATA OUT Data Send Out
6 DATA IN Data Receive In
7 Z_CLK Recognition / Control Accesoris
8 Z_DATA Recognition / Control Accesoris
9 MICG Ground for Microphone In
10 MIC Microphone input
11 AUD Loudspeaker output Out
12 AUDG Ground for Loudspeaker

Untuk dapat berkomunikasi dengan handphone ini diperlukan koneksi serial dengan baudrate 19200 bps. Level tegangan yang digunakan adalah jenis TTL dengan logika high = + 3 Volt dan logika low = + 0 Volt. Kabel data khusus Handphone ini telah didesain khusus untuk mengubah level tegangan RS 232 ke level tegangan TTL khusus siemens M35. Tabel dibawah ini menunjukkan perbandingan level tegangan RS 232 dengan level tegangan TTL Siemens M35.

Tabel Perbandingan level tegangan RS 232 dengan TTL

Logika RS 232 TTL Siemens M35
High ‘1’ -15V s/d -3V 2.5V s/d 3V
Low ‘0’ +3V s/d +15V 0V s/d 0.8V

IC serial RS232 atau MAX 232 diperlihatkan pada gambar dibawah ini

RS232 sebagai komunikasi serial mempunyai 9 pin yang memiliki fungsi masing-masing. Pin yang biasa digunakan adalah pin 2 sebagai received data, pin 3 sebagai transmited data, dan pin 5 sebagai ground signal.

Rangkaian Komunikasi Serial RS232

Rangkaian komunikasi ini berfungsi untuk menjembatani level tegangan RS232 dari kabel handphone ke level tegangan TTL pada mikrokontroler. Komponen utamanya berupa IC MAX232 yang mampu untuk mengkonversi level

Tegangan dari RS232 ke level tegangan TTL atau CMOS dengan kecepatan mencapai 30 bit/uS atau setara dengan 30 Kb per detik. Konektor yang digunakan bertipe DB9 dengan konfigurasi seperti pada gambar diatas. Pin TX dan RX pada MAX232 dihubungkan secara silang pada mikrokontroler yaitu pin TX MAX232 dengan pin RX pada mikrokontroler dan pin RX MAX232 dihubungkan dengan pin TX mikrokontroler.

Koneksi Komunikasi Serial Dengan PC-Hyperterminal

Aplikasi port serial mikrokontroller dapat diuji dengan mengkoneksikan antara sistem mikrokontroller dengan komputer atau handphone siemens melalui port serial komputer (COM1 atau COM2). Untuk berkomunikasi dengan sistem mikrokontroller, komputer membutuhkan program yang dapat dibuat sendiri atau menggunakan program yang telah ada. Program yang telah ada hanya bersifat terminal aja yaitu

Hyperterminal (yang terdapat pada Start -> All Program -> Accessories -> Communications -> Hyperterminal.)

Contoh penyetingan COM pada komputer:

Untuk cara lengkap penyetingan COM dapat didownload disini.

Dan contoh program komunikasi serial HP Siemens type M/C/S 35 menggunakan BASCOM-AVR dapat didownload disini. Selamat mencoba…semoga sukses…

===============================================================

bacaan terkait di blog ini:

1. aplikasi-port-serial-mikrokontroler-atmega8535 klik disini

2. at-command-dan-pdu-siemens-type-C/M/S 35 klik disini

Membuat Robot Line Follower dengan Mikrokontroler

Membuat Robot Line Follower dengan Mikrokontroler

Jika beberapa artikel yang lalu q bercerita tentang Robot Line Follower Analog, maka kali  ini pengen bercerita tentang line follower digital,… yups kali ini q pengen memberikan artikel  tentang cara membuat robot line follower dengan mikrokontroler… semoga bermanfaat…ya…ok 😀

Nah jika pada artikel robot line follower analog, kita gak perlu mikirin yang namanya software… tapi kali ini berbeda… temen-temen semua dituntut untuk dapat menggunakan software dalam pengoperasian robot… tapi bagi yang belum paham software gak perlu khawatir,… tenang ja,.. dunia lum kiamat… kalian masih dapat mempelajarinya hehehee …  🙂

Hmmm software apa ja sich yang digunakan pada robot line follower dengan mikrokontroler?

Yang pertama ialah software  pemrograman bahasanya,…. ada banyak bahasa yang dapat digunakan diantaranya assembly (angel tenan….) pascal(  rodok angel…) C (rodok gampang…) BASIC (gampang buanget…).

Ada banyak bahasa yang apat digunakan, mulai dari bahasa yang susah dan mudah, nach dengan adanya bahasa yang mudah lebih baik kita pelajari dulu yang mudah-mudah (kayak ngerjain soal ujian)…, seperti bahasa BASIC dan C.

Kalian dapat mempelajari bahasa basic dan c dari buku yang beredar…. banyak banget dipasaran,… oiya di blog ini juga terdapat penjelasan tentang cara mempelajari mikrokontroler Atmega8535, nach disitu q udah berusaha menge-share semua tentang bahasa basic dari awal….hingga tak berakhir…

Yang kedua ialah software downloader mikro, maksudnya ialah suatu perangkat lunak yang berfungsi memasukkan program ke dalam mikrokontroler tersebut…. nach Cuma dua software ini untuk merancang robot line follower mikrokontroler… guampangkan….

Nach perhatikan blok sistem dari robot line follower mikrokontroler dibawah ini:

Dengan mengacu kepada blok diagram sistem, terdiri dari bagian masukan, bagian kendali, bagian keluaran dan bagian catu daya (baterai). Pada bagian masukan berupa delapan buah sensor photodiode dengan untai pengkondisi sinyal berupa komparator (IC LM324) dan tombol keypad yang berfungsi untuk memasukan data pengendali robot, contoh dengan kendali PID, Hybrid PID-Fuzzy dan lain sebagainya. Pada bagian keluaran berupa penampil LCD 2*16 dan driver motor (IC L293D) sebagai aktuator (penggerak) robot.

Gambaran Umum Sistem

Cara kerja dari sistem robot line follower secara umumialah dimulai dari pembacaan lintasan atau garis oleh sensor photodiode berserta LED superbright yang mana intensitas pantulan sinar LED superbright akan berbeda jika terkena bidang pantul yang gelap dengan bidang pantul yang lebih terang, dari perbedaan inilah dimanfaatkan sebagai pendeteksi lintasan atau garis dan selanjutnya diteruskan pada rangkaian untai pengkondisi sinyal (komparator). Rangkaian komparator (IC LM324) berfungsi untuk membandingkan nilai yang dibaca sensor photodiode dengan nilai referensi komparator sehingga perbedaan terlihat sangat kontras saat sensor photodiode mendeteksi objek pantul gelap maupun terang. Hasil keluaran komparator kemudian diteruskan dan diproses oleh rangkaian pengendali utama yakni IC mikrokontroler Atmega16. Pada bagian kendali utama inilah semua logika pembacaan sensor yang telah dikondisikan oleh komparator diproses.

Bagian mikrokontroler ini terdiri dari dua masukan dan dua keluaran. Pada bagian masukan berupa sensor dengan untai komparator dan keypad kendali yang berfungsi untuk mengatur algoritma kendali yang akan digunakan pada robot line follower. Pada bagian keluaran berupa display (penampil) dengan menggunakan LCD dan PWM mikrokontroler Atmega16 yang diteruskan ke driver motor (IC l293D) untuk mengendalikan motor kiri dan kanan dari robot line follower.

Untuk skematic rangkaiannya dapat didownload disini

Untuk contoh program dalam bentuk bahasa BASIC dengan editor BASCOM-AVR dapat didownload disini dan bahasa C dengan editor CodeVision-AVR disana.

Semoga bermanfat 🙂

Nach ni dia galery foto robot LINE FOLLOWER ku…. ( tapi ini udah tinggal kenangan, robotnya dah dipreteli ma anak2 mikro club dte UGM 😀 )

nach ni dia kalo pengen liat video robotku klik disini…. dan disana

===============================================================

bacaan terkait di blog ini:

1. merancang-rangkaian-sensor-garis klik disini

2. merancang-komparator-dengan-histerisis klik disini

3. pengaturan-kecepatan-motor-dc-dengan-mikrokontroler klik disini

4. robot-line-follower-dengan-kendali-pid klik disini

Aplikasi PWM Mikrokontroler ATmega8535

PWM (Pulse Width Modulation) Atmega8535

PWM (Pulse Width Modulation) atau modulasi lebar pulsa adalah salah satu keunggulan Timer/Counter yangterdapat pada Atmega8535. Ketiga jenis Timer/Counter pada Atmega8535 dapat menghasilkan pulsa PWM. Pulsa PWM adalah sederetan pulsa yang lebar pulsanya dapat diatur. Pulsa PWM berfungsi mengatur kecepatan motor DC, mengatur gelap terang LED dan aplikasi lainnya. PWM adalah Timer mode Output Compare yang canggih. Mode PWM Timer juga dapat mencacah turun yang berlawanan dengan mode Timer lainnya yang hanya mencacah naik. Pada mode PWM tersebut, Timer mencacah naik hingga mencapai nilai TOP, yaitu 0xFF (255) untuk PWM 8 bit dan 0x3FF (1023) untuk PWM 10 bit. Timer/Counter 0 hanya memiliki PWM 8 bit, sedangkan pada Timer/Counter 1 memiliki 9 bit dan PWM 10 bit, dan Timer/Counter 2 memiliki PWM 8 bit.

Pemilihan mode PWM diseting melalui bit COM01 dan bit COM00 pada register TCCR. Saat COM00 clear dan COM01 set, pin OC0 clear sat timer mencacah diatas Compare Match dan pin OC0 set saat timer mencacah dibawah Compare Match atau non-inverting PWM. Kebalikannya, saat COM00 set dan COM01 juga set, maka pin OC0 set saat timer mencacah dibawah Compare Match atau disebut juga inverting PWM. Agar lebih jelas, perhatikan gambar berikut.

Pulsa PWM inverting dan non-inverting

Pemrograman PWM dengan BASCOM AVR

Fasilitas timer mikrokontroler digunakan untuk pengaturan PWM. Berikut ini pengujian fungsionalitas mikrokontroler Atmega 16 dalam membangkitkan PWM. Penggunanan PWM menggunakan fasilitas overflow pada timer/counter 1.

Listing program untuk mengeluarkan nilai PWM = 0 pada pin OC1A dan OC1B.

Config Timer1 = Pwm , Pwm = 10 , Prescale = 64 , Compare A Pwm = Clear Down , Compare B Pwm = Clear Down   ‘pwm dengan settingan fast pwm 10 bit, mode inverting

Do

Pwm1a = 0 ‘pin OC1A

Pwm1b = 0 ‘pin OC1B

Loop

End

Gambar Gelombang PWM saat 0%

Listing program untuk mengeluarkan nilai PWM = 512 pada pin OC1A dan OC1B.

Config Timer1 = Pwm , Pwm = 10 , Prescale = 64 , Compare A Pwm = Clear Down , Compare B Pwm = Clear Down   ‘pwm dengan settingan fast pwm 10 bit, mode inverting

Do

Pwm1a = 512 ‘pin OC1A

Pwm1b = 512 ‘pin OC1B

Loop

End

Gambar Gelombang PWM saat 50%

nach berikut hasil video pengaturan sinyal PWM nya ^_^

===============================================================

bacaan terkait di blog ini:

1. pengaturan-kecepatan-motor-dc-dengan-mikrokontroler klik disini